Pelatihan hemodialisa merupakan pelatihan yang ditujukan kepada para ahli bidang kesehatan, para dokter, perawat dan juga bidan. Memang istilah hemodialisa merupakan istilah yang aneh bagi kalangan masyarakat umum, sebab istilah tersebut hanya akan dijumpai pada kalangan rumah sakit.
Lalu apakah sebenarnya yang dimaksud dengan hemodialisa?
Hemodialisa adalah sebuah proses pembersihan darah yang berasal dari akumulasi dari sampah buangan. Hemodialisis akan digunakan untuk menangani pasien yang mengalami tahap akhir gagal ginjal atau seorang pasien yang mengindap penyakit akut pada ginjalnya sehingga memerlukan dialysis waktu singkat.
Hemodialisis merupakan pengeluaran zat sisa-sisa metabolism seperti urium dan zat beracun lainnya yang mengalirkan darah dari aliran dengan alat dialezer. Dialezer tersebut berisi membrane yang selektif-permeabel melalui membrane tersebut, melalui fungsi zat-zat yang sebenarnya tidak dikehendaki. Hemodialisa akan dilakukan pada saat pasien mengalami gagal ginjal dan beberapa keracunan yang terjadi pada ginjal.
Untuk melakukan hemodialisa tentu memiliki berbagai proses, adapun proses-prosesnya adalah sebagai berikut:
Pada saat menjalankan proses hemodialisa, darah akan dialirkan di luar tubuh, kemudian disaring melalui ginjal buatan, yang dinamakan dengan dialezer. Setelah penyaringan darah selesai, darah yang sudah disaring kemudian darah tersebut dialirkan kembali tubuh.
Rata-rata manusia memiliki 5s sampai dengan 6,8 liter darah yang terkandung dalam tubuhnya, dan selama menjalankan proses hemodialisa darah yang terkandung hanya 0,5 liter berada di luar tubuh. Dalam proses hemodialisa sangat diperlukan pintu masuk atau sering disebut akses supaya darah dari tubuh tersebut dapat keluar lalu dilakukan penyaringan dengan menggunakan dialezer kemudian dikembalikan lagi ke dalam tubuh.
Ada beberapa akses atau pintu masuk sebagai pemberi jalannya darah untuk keluar, hal tersebut di antaranya adalah:
- Arteriovenous yang disingkat dengan AV.
- AV graft.
- Entral vinous catheter.
AV fistula akses faskuler yang paling direkomendasikan sebab lebih cenderung aman dan nyaman untuk para pasien. Sebelum proses hemodialisa dilakukan pada pasien tentu perawat akan tanda-tanda pasien yang fital, hal tersebut dilakukan untuk apakah pasien layak untuk menjalani proses hemodialisa.
Selain itu pasien juga melakukan timbang, hal tersebut dilakukan untuk memastikan jumlah airan yang ada pada tubuh pasien tersebut yang harus dibuang pada saat menjalankan terapi hemodialisa.
Langkah selanjutnya adalah menghubungkan pasien kepada mesin pencuci darah darah dengan memasang blod line yakni selang berair dan memasangkan jarum yang menghubungkan ke faskurer pasien.
Hal tersebut dilakukan untuk mencari jalan akses sebagai jalan keluar darah ke dialezer dan akses untuk jalan masuk kembali ke tubuh. Setelah semua terpasang maka terapi hemodilisa dapat dimulai.
Pada proses hemodialisa ini sesungguhnya darah tersebut tidak mengalir melalui mesin hd, namun hanya selang darah dan dialeser yang tadi telah dipersiapkan. Mesin hd merupakan akulturasi dari komputer dan pompa. Mesin hd ini berfungsi sebagai pengatur dan memonitor aliran darah, tekanan darah, serta memberi informasi terkait dengan berapa jumlah cairan yang harus dikeluarkan serta informasi fital lainnya yang memang ada.
Selain itu mesin hd juga dapat berperan sebagai pengatur cairan dialisit yang masuk ke dalam dialezer, yang mana cairan tersebut nantinya akan membantu mengumpulkan racun-racun dari darah tersebut. Sedangkan pompa yang ada pada mesin hd memiliki fungsi sebagai pengalir darah dari tubuh ke dialezer serta mengembalikan darah kembali ke dalam tubuh.
Jika melihat uraian di atas betapa rumitnya praktek hemodialisa ini, tentu sebagai dokter atau perawat harus memiliki kehati-hatian dalam menjalankan hemodialisa terhadap para pasien yang menderita ginjal akut. Tidak bisa sembarangan dalam menjalankan terapi ini, sebab ini menjamin kelangsungan hidup bagi pasien itu sendiri.
Mengingat begitu sulitnya menjalankan praktek sebagai hemodialisa maka perlu diadakan pelatihan hemodialisa di kota-kota besar, khususnya di kota yogyakarta ini, dimana kota ini memiliki banyak sekali universitas yang memiliki jurusan kedokteran, keperawatan dan kebidanan.
Karena itulah adanya pelatihan bagi calon dokter, bidan, perawat sangat penting sebelum terjun ke dalam lapangan kerja. Apalagi jika mengambil jurusan bagian perginjalan.
Demikian ulasan mengenai pelatihan hemodialisa di jogja. Semoga ulasan di atas dapat bermanfaat.